Satu Tahun Jejak Sukanto Tanoto Mewarnai Industri Tekstil Nasional

Satu Tahun Jejak Sukanto Tanoto Mewarnai Industri Tekstil Nasional-min

Sukanto Tanoto dikenal sebagai salah satu pengusaha tersukses di Indonesia. Di bawah grup Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikannya, ia menekuni aneka bisnis sumber daya. Tekstil merupakan sektor terbaru yang digelutinya. Hanya dalam setahun berkiprah, banyak pencapaian yang sudah diraih.

Memimpin RGE sebagai Chairman, Sukanto Tanoto mendirikan Asia Pacific Rayon (APR) pada 1 Desember 2018. Perusahaannya ini menjadi produsen viscose pertama di Asia yang terintegrasi secara penuh.

Kelahiran APR menjadi penanda kiprah Sukanto Tanoto di industri tekstil nasional. Sebelumnya ia sudah banyak malang-melintang berkontribusi bagi berbagai industri dalam negeri seperti kelapa sawit serta pulp dan kertas. Selama itu banyak sumbangsih yang diberikannya untuk kemajuan berbagai sektor tersebut.

Hal serupa dilakukan di industri tekstil. Cuma setahun beroperasi, Sukanto Tanoto bersama APR telah meraih sejumlah pencapaian membanggakan.

Pertama kapasitas produksi yang diraih sudah cukup besar. Per tahun, perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Riau, ini mampu memproduksi 240 ribu ton viscose Sebuah pencapaian yang tidak bisa dipandang remeh untuk sebuah perusahaan yang baru setahun beroperasi.

Dengan kapasitas produksi tersebut, APR mampu mendorong pertumbuhan industri tekstil Indonesia sekaligus memangkas ketergantungan impor katun dan viscose. Hal itu dimungkinkan karena APR mengalokasikan separuh hasil produksinya ke pasar ekspor.

Berkat itu, APR mampu menjadi kebanggaan Indonesia. Hanya dalam setahun beroperasi, perusahaan Sukanto Tanoto ini telah mampu memasarkan produk-produknya ke 14 negara lain.

Pencapaian yang diraih APR sejalan dengan roadmap pemerintah dalam memprioritaskan lima sektor di Indonesia termasuk sektor tekstil untuk menyokong ekspor. Tidak heran mereka mendapat apresiasi khusus dari pemerintah yang diwakili oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Ia menilai dengan kehadiran APR sebagai produsen serat  viscose memberikan dampak yang sangat positif dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku mentah. Pada akhirnya hal itu dinilai Airlangga mampu memperkaya industri tekstil Indonesia. “Operasional APR juga sejalan dengan agenda pemerintah, yakni memprioritaskan pengembangan industri tekstil untuk mencapai Making Indonesia 4.0,” tambah Airlangga.

Saat industri tekstil nasional sedang dalam kondisi kurang baik. Serbuan produk-produk impor membuat produsen dalam negeri terpuruk. Hal itu juga berpengaruh terhadap kinerja ekspor tekstil yang ikut melempem.

Dalam situasi sulit seperti itu, kehadiran pihak seperti APR sangat berarti. APR memang ingin mendukung perkembangan industri tekstil Indonesia. Mereka berambisi suatu saat nanti mampu menjadi produsen serat viscose terintegrasi yang terbesar di dunia. Untuk mencapainya, investasi senilai Rp 10.9 triliun (US$ 740 juta) dalam pengembangan fasilitas produksi di Pangkalan Kerinci dikucurkan.

“Saya ingin menegaskan kembali dukungan kami terhadap aspirasi Indonesia untuk mengembangkan industri tekstil secara strategis dan dapat bersaing secara global,” ujar Direktur APR, Basrie Kamba. “Saya melihat hal ini sebagai awal dari era baru untuk industri tekstil. Salah satu tujuan utama kami adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, mendukung industri tekstil berinovasi serta memberikan multiplier effect, termasuk untuk pengembangan UMKM.”

APR berkomitmen menghasilkan rayon berkualitas tinggi untuk kebutuhan tekstil dan produk kebersihan pribadi. Dalam proses produksi, mereka berpegang teguh terhadap prinsip keberlanjutan, transparansi, dan efisiensi operasional, melayani kepentingan masyarakat dan negara, serta memberikan nilai kepada pelanggan.

Hal itu sejalan dengan arahan Sukanto Tanoto. Ia mewajibkan semua pihak di bawah naungan RGE untuk mampu berguna bagi masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), sehingga akan baik bagi perusahaan (Company).

BASIS PRODUKSI BERKELANJUTAN

Oleh karena itu, APR memandang keberlanjutan sebagai hal vital. Dalam setahun pertama beroperasi, proses ramah lingkungan langsung diterapkan. Semua dijadikan basis untuk tahun-tahun berikutnya.

Hal itu diwujudkan dalam banyak cara. Salah satunya dengan menjamin keterlacakan bahan baku. Maka, Oktober 2019, APR dan perusahaan teknologi TrusTrace mengumumkan rencana untuk berkolaborasi dalam mendukung keterlacakan viscose staple fiber (VSF). Nanti produk bisa dilacak sejak dari pembibitan dan perkebunan di mana bahan baku bersumber, hingga ke toko dimana pakaian yang mengandung serat tersebut dijual ke konsumen.

Niat tersebut diwujudkan dalam platform “Follow Our Fiber”. Di sana APR memberikan keterlacakan dan transparansi di seluruh rantai nilai produksinya mulai dari pembibitan hingga VSF.  Dengan teknologi blockchain, pelanggan bisa melacak produk hanya dengan aplikasi smartphone.

Bukan hanya keterlacakan yang menjadi perhatian APR. Pada Agustus 2019, perusahaan Sukanto Tanoto ini juga bergabung sebagai anggota di Textile Exchange. Ini adalah sebuah organisasi nirlaba global yang mempromosikan keberlanjutan dalam rantai nilai tekstil.

Selama ini Textile Exchange bekerja sama dengan para anggotanya untuk mendorong transformasi industri dalam serat pilihan, integritas, standar, dan jaringan pasokan yang bertanggung jawab. Langkah yang diambil bertujuan meminimalkan dampak negatif lingkungan dari industri tekstil global.

Selain itu, sejak Juni 2019, APR telah meraih sejumlah sertifikasi mulai dari ISO 9007:2015 Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan, dan OHSAS 18801:2017 Standar Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Untuk meraihnya, proses sertifikasi dilakukan sejak Desember 2018 hingga April 2019 melalui audit kepatuhan yang dilakukan oleh PT SGS Indonesia, sebuah lembaga sertifikasi independen.

Karena sudah menjadi salah satu perusahaan bersertifikasi ISO, APR berarti telah terbukti berkomitmen untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman, serta mengurangi dan sedapat mungkin menghilangkan dampak lingkungan dalam menghasilkan produk yang berkualitas.

Setelah itu, pada 1 Oktober 2019, APR bergabung menjadi salah satu anggota dari Zero Discharge of Hazardous Chemicals (ZDHC). Organisasi ini merupakan sebuah kolaborasi dari beragam merek-merek fashion utama, afiliasi dan asosiasi rantai nilai yang berusaha menggerakkan implementasi dunia dalam hal praktik manajemen penggunaan bahan kimia yang lebih aman pada industri tekstil, kulit, dan alas kaki.

“Menjadi bagian dari ZDHC merupakan sebuah penegasan terhadap komitmen kami dalam mencapai standar tertinggi pada manajemen bahan kimia yang aman dalam operasi kami. Hal ini merupakan bagian dari usaha kami yang lebih luas untuk menghasilkan sektor industri tekstil yang berkelanjutan dan bertanggung jawab untuk saat ini dan generasi di masa mendatang,” ungkap Cherie Tan, Vice President, Sustainability & Communications APR.

Pencapaian itu kemudian dilengkapi dengan perolehan label Produk Bersertifikat Berbasis alami dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) paa November 2019. Label ini adalah bagian dari Program BioPreferred yang dipimpin USDA yang membantu pengembangan dan perluasan pasar untuk produk-produk berbasis alami di seluruh dunia dan mengomunikasikan sebuah produk yang berbahan alami.

Aneka pencapaian tersebut memperlihatkan kinerja APR memang selalu berbasis terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan. Operasionalnya dijamin berdampak minimal ke alam maupun masyarakat sekitar.

“APR berkomitmen untuk berproduksi dengan standar lingkungan tertinggi. Selain itu, serat viscose yang dihasilkan APR sesuai dengan komitmen keberlanjutan (sustainable) perusahaan, di mana fasilitas produksi kami didukung oleh biomassa terbarukan; menggunakan teknologi terbaik untuk memastikan efisiensi energi yang maksimal dalam operasi kami,” kata Basrie.

Image Source: Aprayon.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *