Hampir semua website sekarang ini, memiliki design yang responsive. Hal ini dipicu dari pekembangan gedget yang semakin canggih, yang membuat para pengunjung mengakses website dari berbagai jenis perangkat. Oleh karena itu Responsive Web Design menjadi solusi para pengembang, agar website kompatibel di semua perangkat.

Lalu, Apa itu Responsive Web Design? Dan, Bagaimana Konsep ?. Yuk, terus simak artikel ini.

Apa itu Responsive Web Design? 

Responsive Web Design adalah pendekatan yang menyarankan bahwa desain dan developer, harus merespons perilaku dan lingkungan pengguna berdasarkan ukuran layar, platform, dan orientasi.

Dalam metode ini sebuah website akan secara otomatis menyesuaikan penempatan elemen desain agar sesuai dengan berbagai ukuran layar.

Saat pengguna beralih dari laptop mereka ke iPad, situs website akan secara otomatis beralih untuk mengakomodasi resolusi, ukuran gambar, dan kemampuan skrip. Bisa dibilang, sebuah website harus memiliki teknologi untuk secara otomatis merespons preferensi pengguna.

Konsep Responsive Website

Responsive Web Design, awalnya dijelaskan oleh Ethan Marcotte di A List Apart. Ini berasal dari gagasan desain arsitektur responsif, di mana sebuah ruangan atau ruang secara otomatis menyesuaikan dengan jumlah dan arus orang di dalamnya:

“Recently, an emergent discipline called “responsive architecture” has begun asking how physical spaces can respond to the presence of people passing through them. Through a combination of embedded robotics and tensile materials, architects are experimenting with art installations and wall structures that bend, flex, and expand as crowds approach them. Motion sensors can be paired with climate control systems to adjust a room’s temperature and ambient lighting as it fills with people. Companies have already produced “smart glass technology” that can automatically become opaque when a room’s occupants reach a certain density threshold, giving them an additional layer of privacy.”

“Baru-baru ini, sebuah disiplin baru yang disebut “arsitektur responsif” mulai menanyakan bagaimana ruang fisik dapat merespons kehadiran orang yang melewatinya. Melalui kombinasi robotika yang disematkan dan material tarik, arsitek bereksperimen dengan instalasi seni dan struktur dinding yang melengkung, melenturkan, dan memperluas saat orang banyak mendekati mereka. Sensor gerak dapat dipasangkan dengan sistem kontrol iklim untuk menyesuaikan suhu ruangan dan pencahayaan sekitar saat dipenuhi orang. Perusahaan telah memproduksi “teknologi kaca pintar” yang dapat secara otomatis menjadi buram saat penghuni ruangan mencapai ambang kepadatan tertentu, memberi mereka lapisan privasi tambahan.”

Tetapi desain web yang responsif tidak hanya tentang resolusi layar yang dapat disesuaikan dan gambar yang dapat diubah ukurannya secara otomatis. Tetapi juga tentang cara berpikir yang sama sekali baru tentang desain.